Sabtu, 09 Januari 2016



MEMANUSIAKAN MANUSIA II
 

MAKALAH
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
IAD, IBD, ISD
Pada semester I
Dosen : Zainal Aripin, S.Pd.I
Oleh:
1.      Nur Chalimatus Sa’diyyah                (115043)
2.      Roudlotun Nofiati Bimashiatillah     (115046)
3.      Umi Rohmah                                      (1115001)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM PATI
JURUSAN TARBIYAH
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Ilmu Budaya Dasar adalah ilmu yang mempelajari yang mepelajari berbagai masalah kemanusiaan dan budaya, dengan menggunakan pengertian-pengertian yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan yang tergolong dalam Pengetahuan Budaya. Ilmu budaya dasar merupakan ilmu pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan serta dapat menemukan jalan keluarnya.
Oleh karena itu Ilmu Alam Dasar (IAD), Ilmu Budaya Dasar (IBD), dan Ilmu Sosial Dasar (ISD) dianggap perlu dipelajari. Karena dengan menguasaan ilmu-ilmu tersebut diharapkan mahasiswa mempunyai sikap kritis.
Berkaitan dengan judul yang akan kami ulas dalam makalah ini yaitu tentang Memanusiakan Manusia II kami sebagai penulis akan menjelaskan tentang Manusia dan Pandangan Hidup, Manusia dan Kegelisahan, Manusia dan Harapan.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan pandangan hidup?
2.      Apa pengertian kegelisahan?
3.      Apa maksud harapan dalam hidup?





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Manusia dan pandangan hidup
Yang dimaksud dengan pandangan hidup adalah bagaimana manusia memandang kehidupan atu bagaimana manusia memiliki rancangan tentang kehidupan. Akibat dari pandangan hidup yang berbeda-beda , maka timbulah pandangan hidup yang dapat dikelompok-kelompokan, disebut aliran atau faham. Sebagai contoh orang yang mengutamakan diri sendiri menimbulkan faham individualisme dan orang yang mengutamakan kepentingan umum atau masyarakat menimbulkan faham sosialisme.
Pandangan hidup juga tidak terlepas dari masalah nilai dalam kehidupan manusia pada umumnya.oleh karena itu, pandangan hidup yang sempurna merupakan wujud pertama kebudayaan yang tidak boleh terlepas dari nilai budaya.
Pelukis Basuki Abdullah mempunyai pandangan keindahan bahwa sesuatu dapat dikatakan indah apabila sesuai dengan keindahan alam . oleh karena itu lukisan kuda ataupun manusia harus benar-benar sesuai dengan wujudnya baik dari segi struktur maupun warnanya  sehingga orang mengagumi keindahannya akan berkomentar, “Aih betapa indahnya, persis seperti aslinya!”. Pandangan tersebut dalam seni lukis disebut alira naturalisme. Sedangkan pelukis S.Soedjojono memiliki pemikiran atau pemandangan, bahwa nilai seni yang indah adalah yang menggambarkan ekspresi sang pelukis. Sebab dengan paham ini perasaan, pikiran, ataupun pandangan sang pelukis akan tercermin dalam karyanya. Aliran yang disebut ekspesionisme ini berpendapat bahwa karya seperti itu dapat mengutarakan apa yang terasa, terpikir, ataupun terpandang oleh pelukis. Mereka tidak menjiplak alam (memetik), tetapi menciptakan karya seni. Oleh karena itu mereka tidak terikat oleh alam, tetapi bebas menciptakan karya. Misalnya karya yang diberijudul Wawayangan oleh S.Soedjojono menggambarkan kehidupan dalam masyarakat secara rohani.[1] Pelukis seperti Popo Iskandar pandangan hidupnya tidaklebih tidak terikat oleh alam ataupun perasaan pelukis tetapi menciptakan suatu yang baru yang lebih mengarah pada abstraksi (tidak jelas) sehingga alirannya dikenal sebagai aliran abstraksisme atau kubisme karena kadang-kadang dalam mewujudkan lukisan banyak menggunakan kubus atu garis-garis.
Bagi orang awam pemikiran aliran ini sulit dipahami, akan tetapi bagi mereka yang mengerti akan berpendapat bahwa itulah hasil karya manusia yang sebenarnya.
Dari ketiga contoh diatas dapat dikembangkanbagaimana manusia memandang kehidupan yang lain brdasarkan nilai-nilai budaya dorongan kebutuhan hidup. Dorongan kodrat itu adalah menangis , tertawa,berpikir, berkata, bercinta, mempunyai keturunan, dan sebagainya.
Kebutuhan hidup adalah kebutuhan jasmani dan rohani. Kebutuhan jasmani adalah pangan, sandang, dan papan. Sedangkan kebutuhan rohani meliputi kebahagiaan, kesejahteraan, kepuasan hiburan, dan sebagainya.
Dalam mencukupi kebutuhan baik kodrat maupun kebutuhan hidup, manusia memerlukan bantuan orang lain.
Berdasarkan dorongan kebutuhan kodrat dan kebutuhan hidup, maka setiap orang mengharapkan kebutuhan hidup dapat terpenuhi. Sehubungan dengan kebutuhan manusia, Abraham Maslow mengategorikan kebutuhan manusia menjadi lima macam, yang merupakan lima harapan manusia adalah :
1.      Harapan untuk memperoleh kelangsungan hidup (survival).
2.      Harapan untuk memperoleh keamanan (safety).
3.      Harapan untuk memiliki hak dan kewajiban untuk mencintai dan dicintai (beloving and love).
4.      Harapan memperoleh status atau untuk diterima atu diakui lingkungan.
5.      Harapan untuk memperoleh perwujudan dan cita-cita (self actualization).[2]

B.     Kegelisahan
Kegelisahan berasal dari kata “gelisah”, artinya rasa tidak tentram hati, tidak tenang, tidak sabar lagi, merasa cemas dan khawatir.[3]
Kegelisahan hanya dapat diketahui dari gejala tingkah laku atau gerak-gerik seseorang dalam situasi tertentu. Gejala tingkah laku atau gerak-gerik itu umumnya lain dari biasanya, misalnya berjalan mondar-mandir dalam ruangan tertentu sambil menundukkan kepala.
Kegelisahan itu timbul karena perbuatan sendiri atau karena keadaan luar manusia, yang memberi pengaruh psikologis yang merugikan terhadap harta kekayaan, jiwa atau badan, martabat, dan harga dirinya. Pengaruh tersebut tidak hanya pada diri seseorang tertentu itu, melainkan dapat terjadi juga pada orang lain, pada keluarga, dan pada masyarakat. Karena perbuatan tertentu bapak gelisah, ibu gelisah, keluarga gelisah, tetangga ikut gelisah, bahkan masyarakat sekitar menjadi gelisah. Misalnya seorang pejabat dituduh menyalah gunakan kekuasaan dikantornya. Ketika istirahat dirumahnya, ada petugas yang diperintahkan untuk menangkap dan menahan pejabat tersebut. Suasana menjadi menjadi tidak menentu, apa benar bapak itu menylah gunakan kekuasaannya, padahal sehari-hari ia dikenal sebagai orang yang baik, ramah, suka menolong sesama,hidupnya biasa-biasa saja,dan lain-lain. Karena keadaan ini istrinya gelisah, anaknya gelisah, tetangga gelisah, dan pejabat yang bersangkutan.[4]
Sigmund freud berpendapat bahwa ada tiga macam kegelisahan yang menimpa manusia yaitu :
1.      Kegelisahan Obyektif  (kenyataan) adalah suatu pengalaman perasaan akibat pengamatan atau suatu bahaya dunia luar. Bahaya adalah sikap keadaan dalam lingkungan seseorang yang mengancamnya.pengalaman bahaya dan timbulnya kecemasan mungkin dari sifat pembawaan, bahwa seseorang mewarisi kecenderungan untuk menjadi takut kalau dia beada dekat dengan benda-benda tertentu dari lingkungannya.
2.      Kegelisahan Neurotik adalah kegelisahan yang timbul karena pengamatan tentang bahaya dari diri sendiri (naluriah atau syaraf).
Kecemasan naluriah ini disebabkan karena :
a.       Gelisah karena penyesuaian diri dengan lingkungan, sehingga takut akan bayangan sendiriatau pada idenya sendiri. Misalnya takut ditempat baru nanti tidak mempunyai teman, atau mungkin di tempat baru orang-orangnya jahat.[5]
b.      Rasa takut irasional atu phobi. Rasa takut ini mudah menular sehingga kadang-kadang tanpa alasan dan hanya karena pandangan dilanjutkan dengan khayalan yang kuat menimbulkan rasa takut. Misalnya orang takut ular, takut lintah. Rasa takut semacam ini dapat ditekan bahkan dihilangkan sama sekali.
c.       Rasa takut yang lain, seperti gagap dan sebagainya. Misalnya orang seorang itu yang bisa bernyanyi atau bicara di depan umum, tiba-tiba mendapatgiliran untuk bernyanyi dipanggung, sehingga ia gugup.
3.      Kegelisahan moral yaitu setiap individumempunyai bermacam-macam emosi seperti iri, dengki, dendam, benci, takut, gelisah,cinta, rasa kurang, dan lain-lain. Iri dan sebagainya itu tidak cukup beralasan, artinya hanya memandang dirinya sendiri (egoisme). Iri dan sebagainya itu merupakan sebagian dari pernyataan individu secara keseluruhan berdasarkan konsep yang kurang sehat, maka sring untuk alasan iri, benci, dendam, dan sebagainyaitu krang dapat dipahami orang lain . kegelisahan yang lain adalah perasaan tidak menakutkan dan menjijikkan.
Adapun sebab-sebab orang gelisahpada hakekatnya orang takut kehilangan hak-haknya. Hal itu disebabkan karena adanya suatu ancaman yang asalnya dari luar atau dari dalam dirinya sendiri.
Usaha-usaha untuk mengatasi kegelisahan, pertama-tama harus dimulai dari diri sendiri, yaitu kita kita harus bersikap tenang. Dengan bersikap tenang, kita dapat berpikir tenang, sehingga segala kesulitan dapat kita atasi. Untuk menghilangkan kegelisahan adalah pasrah diri kepada Tuhan. Kita harus percaya bahwa Tuhanlah Maha Kuasa , Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Pengampun.[6]
C.     Harapan
Harapan selalu dilatar belakangi oleh kehidupan oleh kehidupan yang berfokus pada kebutuhan hidup,  yang bertujuan untuk menciptakan kemakmuran, kesenangan, kebahagiaan dan kebaikan. Harapan selalu menimbulkan sikap positif, optimis, aktif dan kreatif,   karena ada satu unsur yang menentukan, yaitu diukur dengan kemampuannya sendiri. Usaha yang sudah dirintintis itu membangkitkan gairah untuk mengatasi kesulitan hidup.Sedangkan kemampuan dirisendiri, membangkitkan sikap ”percaya diri” bahwa apa yang diharapkanitu berhasil. Keinginan manusia dapat dibedakanmenjadi tiga macamsecara berurutaan, yaitu : angan-angan,cita-cita dan harapan. Angan-angan adalah suatukeinginan yang tidak mungkin tercapai, karena tidak didukung oleh kemampuan dan usaha. Cita-cita adalah suatu keinginan yang mungkin dapat dicapaibila disertai usaha yang kuat, dan didukung oleh suatu kemampuan.Dalam hal ini keinginan itu masih didalampikiran, belum terwujut dalam usaha.Harapan adalah suatu keinginan yang mungkin tercapai dengan usaha yang telah dirintis (dimulai), karena didukung oleh kemampuan.[7]
Harapan berasal dari kata harap yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi, sehingga harapan dapat diartikan sesuatu yang diinginkan dapat terjadi. Yang dapat disimpulkan harapan itu menyangkut permasalahan masa depan.
Setiap manusia mempunyai harapan. Manusia yang tanpa harapan, berarti manusia itu mati dalam hidup. Orang yang akan meninggal sekalipun mempunyai harapan, biasanya berupa pesan – pesan kepada ahli warisnya.
Harapan tersebut tergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup dan kemampuan masing – masing. Misalnya, Budi hanya mampu membeli sepeda, biasanya tidak mempunyai harapan untuk membeli mobil. Seorang yang mempunyai harapan yang berlebihan terkadang akan berakibat menjadi tertawaan orang banyak seperti pribahasa “Si pungguk merindukan bulan”, walaupun tidak ada yang tidak mungkin didunia ini bila Tuhan berkehandak.
Harapan harus berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan pada diri sendiri, maupun kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Agar harapan dapat terwujud, maka diperlukan usaha dengan sungguh – sungguh, berdoa dan pada akhirnya bertawakal agar harapan itu dapat terwujud.[8]
Sebab manusia mempunyai harapan adalah menurut kodratnya manusia itu adalah mahluk sosial. Setiap lahir ke dunia langsung disambut dalam suatu interaksi hidup, yakni ditengah suatu keluarga atau sebagai anggota masyarakat. Tidak ada satu manusiapun yang luput dari interaksi hidup. Ditengah – tengah yang lainnya, seseorang dapat hidup dan berkembang baik fisik / jasmani maupun mental / spiritualnya. Ada dua hal yang mendorong orang hidup berinteraksi dengan manusia lain, yakni dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup.
Dorongan kodrat, ialah sifat, keadaan atau pembawaan alamiah yang sudah terjelma dalam diri manusia sejak manusia itu diciptakan oleh Tuhan. Misalnya menangis, bergembira, berpikir, berjalan, berkata, mempunyai keturunan dan sebagainya. Setiap manusia mempunyai kemampuan untuk itu semua.
Dorongan kebutuhan hidup, sudah kodratnya bahwa manusia mempunyai bermacam – macam kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup itu pada garis besarnya dapat dibedakan atas kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani.
Menurut Abraham Maslow sesuai dengan kodratnya harapan manusia atau kebutuhan manuis itu ialah :
a.       Kelangsungan hidup (survival)
b.       Keamanan (safety)
c.       Hak dan kewajiban mencintai dan dicintai (be loving and love)
d.      Diakui linkungan (status)
e.       Perwujudan cita – cita (self actualization)[9]



BAB III
PENUTUP
Simpulan
1.      Yang dimaksud dengan pandangan hidup adalah bagaimana manusia memandang kehidupan atu bagaimana manusia memiliki rancangan tentang kehidupan. Akibat dari pandangan hidup yang berbeda-beda , maka timbulah pandangan hidup yang dapat dikelompok-kelompokan, disebut aliran atau faham. Sebagai contoh orang yang mengutamakan diri sendiri menimbulkan faham individualisme dan orang yang mengutamakan kepentingan umum atau masyarakat menimbulkan faham sosialisme.
2.      Gelisah berasal dari kata “gelisah”, artinya rasa tidak tentram hati, tidak tenang, tidak sabar lagi, merasa cemas dan khawatir. Kegelisahan hanya dapat diketahui dari gejala tingkah laku atau gerak-gerik seseorang dalam situasi tertentu. Gejala tingkah laku atau gerak-gerik itu umumnya lain dari biasanya, misalnya berjalan mondar-mandir dalam ruangan tertentu sambil menundukkan kepala.
3.      Harapan selalu dilatar belakangi oleh kehidupanoleh kehidupan yang berfokus pada kebutuhan hidup,  yang bertujuan untuk menciptakan kemakmuran, kesenangan, kebahagiaan dan kebaikan. Harapan selalu menimbulkan sikap positif, optimis, aktif dan kreatif,   karena ada satu unsur yang menentukan, yaitu diukur dengan kemampuannya sendiri. Usaha yang sudah dirintintis itu membangkitkan gairah untuk mengatasi kesulitan hidup.Sedangkan kemampuan dirisendiri, membangkitkan sikap ”percaya diri” bahwa apa yang diharapkanitu berhasil. Keinginan manusia dapat dibedakanmenjadi tiga macamsecara berurutaan, yaitu : angan-angan,cita-cita dan harapan. Angan-angan adalah suatukeinginan yang tidak mungkin tercapai, karena tidak didukung oleh kemampuan dan usaha. Cita-cita adalah suatu keinginan yang mungkin dapat dicapaibila disertai usaha yang kuat, dan didukung oleh suatu kemampuan.Dalam hal ini keinginan itu masih didalampikiran, belum terwujut dalam usaha.Harapan adalah suatu keinginan yang mungkin tercapai dengan usaha yang telah dirintis (dimulai), karena didukung oleh kemampuan.

DAFTAR PUSTAKA
Mustofa, Ahmad, Ilmu Budaya Dasar, Bandung: Pustaka Setia, 1999.
Sudibyo, Lies., dkk.,Ilmu Sosial Budaya Dasar, Yogyakarta: Andi Offset, 2013.
Sanusi, Aang. “Manusia dan Kegelisahan.” 7 sep. 2015,
https://sanusiadam79.wordpress.com/2013/05/09/manusia-dan-kegelisahan/
Yudo, Ardi. “Manusia dan Harapan.” 8 sep. 2015.
http://ilmubudayadasarardhi.blogspot.co.id/2011/11/manusia-dan-harapan.html
Rahman, Habib Abdur. “Manusia dan Harapan.” 7 sep. 2015, https://abra139201.wordpress.com/2011/05/24/manusia-dan-harapan.html


[1] Ahmad Mustofa, Ilmu Budaya Dasar (Bandung:Pustaka Setia, 1999) 113-114
[2]Ahmad Mustofa, Ilmu Budaya Dasar (Bandung:Pustaka Setia, 1999) 114-115
[3] Ahmad Mustofa, Ilmu Budaya Dasar (Bandung:Pustaka Setia, 1999) 144
[4]Ahmad Mustofa, Ilmu Budaya Dasar (Bandung:Pustaka Setia, 1999) 145
[5]Ahmad Mustofa, Ilmu Budaya Dasar (Bandung:Pustaka Setia, 1999) 145-146
[6]Aang Sanusi, Manusia dan Kegelisahan, 7 sep. 2015
https://sanusiadam79.wordpress.com/2013/05/09/manusia-dan-kegelisahan/
[7] Lies Sudibyo, dkk., ilmu Sosial Budaya dasar (Yogyakarta: Andi Offset, 2013) 159-160
[8] Habib Abdur Rahman, Manusia dan Harapan, 7 sep. 2015 https://abra139201.wordpress.com/2011/05/24/manusia-dan-harapan.html
[9] Ardi Yudo, Manusia dan Harapan, 8 sep. 2015
http://ilmubudayadasarardhi.blogspot.co.id/2011/11/manusia-dan-harapan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar