MEMANUSIAKAN MANUSIA II
MAKALAH
Disusun
untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
IAD,
IBD, ISD
Pada
semester I
Dosen
: Zainal Aripin, S.Pd.I
Oleh:
1. Nur
Chalimatus Sa’diyyah (115043)
2. Roudlotun
Nofiati Bimashiatillah (115046)
3. Umi
Rohmah (1115001)
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM PATI
JURUSAN
TARBIYAH
PRODI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Ilmu Budaya Dasar adalah ilmu yang
mempelajari yang mepelajari berbagai masalah kemanusiaan dan budaya, dengan
menggunakan pengertian-pengertian yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan
yang tergolong dalam Pengetahuan Budaya. Ilmu budaya dasar merupakan ilmu
pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian
umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah
manusia dan kebudayaan serta dapat menemukan jalan keluarnya.
Oleh karena itu Ilmu Alam Dasar (IAD),
Ilmu Budaya Dasar (IBD), dan Ilmu Sosial Dasar (ISD) dianggap perlu dipelajari.
Karena dengan menguasaan ilmu-ilmu tersebut diharapkan mahasiswa mempunyai
sikap kritis.
Berkaitan dengan judul yang akan kami
ulas dalam makalah ini yaitu tentang Memanusiakan Manusia II kami sebagai
penulis akan menjelaskan tentang Manusia dan Pandangan Hidup, Manusia dan
Kegelisahan, Manusia dan Harapan.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan pandangan hidup?
2. Apa
pengertian kegelisahan?
3. Apa
maksud harapan dalam hidup?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Manusia
dan pandangan hidup
Yang dimaksud dengan pandangan hidup
adalah bagaimana manusia memandang kehidupan atu bagaimana manusia memiliki
rancangan tentang kehidupan. Akibat dari pandangan hidup yang berbeda-beda ,
maka timbulah pandangan hidup yang dapat dikelompok-kelompokan, disebut aliran
atau faham. Sebagai contoh orang yang mengutamakan diri sendiri menimbulkan
faham individualisme dan orang yang mengutamakan kepentingan umum atau
masyarakat menimbulkan faham sosialisme.
Pandangan hidup juga tidak terlepas dari
masalah nilai dalam kehidupan manusia pada umumnya.oleh karena itu, pandangan
hidup yang sempurna merupakan wujud pertama kebudayaan yang tidak boleh
terlepas dari nilai budaya.
Pelukis Basuki Abdullah mempunyai
pandangan keindahan bahwa sesuatu dapat dikatakan indah apabila sesuai dengan
keindahan alam . oleh karena itu lukisan kuda ataupun manusia harus benar-benar
sesuai dengan wujudnya baik dari segi struktur maupun warnanya sehingga orang mengagumi keindahannya akan
berkomentar, “Aih betapa indahnya, persis seperti aslinya!”. Pandangan tersebut
dalam seni lukis disebut alira naturalisme. Sedangkan pelukis S.Soedjojono
memiliki pemikiran atau pemandangan, bahwa nilai seni yang indah adalah yang
menggambarkan ekspresi sang pelukis. Sebab dengan paham ini perasaan, pikiran,
ataupun pandangan sang pelukis akan tercermin dalam karyanya. Aliran yang
disebut ekspesionisme ini berpendapat bahwa karya seperti itu dapat
mengutarakan apa yang terasa, terpikir, ataupun terpandang oleh pelukis. Mereka
tidak menjiplak alam (memetik), tetapi menciptakan karya seni. Oleh karena itu
mereka tidak terikat oleh alam, tetapi bebas menciptakan karya. Misalnya karya
yang diberijudul Wawayangan oleh S.Soedjojono menggambarkan kehidupan dalam
masyarakat secara rohani.[1] Pelukis
seperti Popo Iskandar pandangan hidupnya tidaklebih tidak terikat oleh alam ataupun
perasaan pelukis tetapi menciptakan suatu yang baru yang lebih mengarah pada
abstraksi (tidak jelas) sehingga alirannya dikenal sebagai aliran abstraksisme
atau kubisme karena kadang-kadang dalam mewujudkan lukisan banyak menggunakan
kubus atu garis-garis.
Bagi orang awam pemikiran aliran ini
sulit dipahami, akan tetapi bagi mereka yang mengerti akan berpendapat bahwa
itulah hasil karya manusia yang sebenarnya.
Dari ketiga contoh diatas dapat
dikembangkanbagaimana manusia memandang kehidupan yang lain brdasarkan
nilai-nilai budaya dorongan kebutuhan hidup. Dorongan kodrat itu adalah
menangis , tertawa,berpikir, berkata, bercinta, mempunyai keturunan, dan
sebagainya.
Kebutuhan hidup adalah kebutuhan jasmani
dan rohani. Kebutuhan jasmani adalah pangan, sandang, dan papan. Sedangkan
kebutuhan rohani meliputi kebahagiaan, kesejahteraan, kepuasan hiburan, dan
sebagainya.
Dalam mencukupi kebutuhan baik kodrat
maupun kebutuhan hidup, manusia memerlukan bantuan orang lain.
Berdasarkan dorongan kebutuhan kodrat
dan kebutuhan hidup, maka setiap orang mengharapkan kebutuhan hidup dapat
terpenuhi. Sehubungan dengan kebutuhan manusia, Abraham Maslow mengategorikan
kebutuhan manusia menjadi lima macam, yang merupakan lima harapan manusia
adalah :
1. Harapan
untuk memperoleh kelangsungan hidup (survival).
2. Harapan
untuk memperoleh keamanan (safety).
3. Harapan
untuk memiliki hak dan kewajiban untuk mencintai dan dicintai (beloving and love).
4. Harapan
memperoleh status atau untuk diterima atu diakui lingkungan.
5. Harapan
untuk memperoleh perwujudan dan cita-cita (self
actualization).[2]
B. Kegelisahan
Kegelisahan berasal dari kata “gelisah”,
artinya rasa tidak tentram hati, tidak tenang, tidak sabar lagi, merasa cemas
dan khawatir.[3]
Kegelisahan hanya dapat diketahui dari
gejala tingkah laku atau gerak-gerik seseorang dalam situasi tertentu. Gejala
tingkah laku atau gerak-gerik itu umumnya lain dari biasanya, misalnya berjalan
mondar-mandir dalam ruangan tertentu sambil menundukkan kepala.
Kegelisahan itu timbul karena perbuatan
sendiri atau karena keadaan luar manusia, yang memberi pengaruh psikologis yang
merugikan terhadap harta kekayaan, jiwa atau badan, martabat, dan harga
dirinya. Pengaruh tersebut tidak hanya pada diri seseorang tertentu itu,
melainkan dapat terjadi juga pada orang lain, pada keluarga, dan pada
masyarakat. Karena perbuatan tertentu bapak gelisah, ibu gelisah, keluarga
gelisah, tetangga ikut gelisah, bahkan masyarakat sekitar menjadi gelisah.
Misalnya seorang pejabat dituduh menyalah gunakan kekuasaan dikantornya. Ketika
istirahat dirumahnya, ada petugas yang diperintahkan untuk menangkap dan
menahan pejabat tersebut. Suasana menjadi menjadi tidak menentu, apa benar
bapak itu menylah gunakan kekuasaannya, padahal sehari-hari ia dikenal sebagai
orang yang baik, ramah, suka menolong sesama,hidupnya biasa-biasa saja,dan
lain-lain. Karena keadaan ini istrinya gelisah, anaknya gelisah, tetangga
gelisah, dan pejabat yang bersangkutan.[4]
Sigmund freud berpendapat bahwa ada tiga
macam kegelisahan yang menimpa manusia yaitu :
1. Kegelisahan
Obyektif (kenyataan) adalah suatu
pengalaman perasaan akibat pengamatan atau suatu bahaya dunia luar. Bahaya
adalah sikap keadaan dalam lingkungan seseorang yang mengancamnya.pengalaman
bahaya dan timbulnya kecemasan mungkin dari sifat pembawaan, bahwa seseorang
mewarisi kecenderungan untuk menjadi takut kalau dia beada dekat dengan
benda-benda tertentu dari lingkungannya.
2. Kegelisahan
Neurotik adalah kegelisahan yang timbul karena pengamatan tentang bahaya dari
diri sendiri (naluriah atau syaraf).
Kecemasan naluriah ini
disebabkan karena :
a. Gelisah
karena penyesuaian diri dengan lingkungan, sehingga takut akan bayangan
sendiriatau pada idenya sendiri. Misalnya takut ditempat baru nanti tidak mempunyai
teman, atau mungkin di tempat baru orang-orangnya jahat.[5]
b. Rasa
takut irasional atu phobi. Rasa takut ini mudah menular sehingga kadang-kadang
tanpa alasan dan hanya karena pandangan dilanjutkan dengan khayalan yang kuat
menimbulkan rasa takut. Misalnya orang takut ular, takut lintah. Rasa takut
semacam ini dapat ditekan bahkan dihilangkan sama sekali.
c. Rasa
takut yang lain, seperti gagap dan sebagainya. Misalnya orang seorang itu yang
bisa bernyanyi atau bicara di depan umum, tiba-tiba mendapatgiliran untuk
bernyanyi dipanggung, sehingga ia gugup.
3. Kegelisahan
moral yaitu setiap individumempunyai bermacam-macam emosi seperti iri, dengki,
dendam, benci, takut, gelisah,cinta, rasa kurang, dan lain-lain. Iri dan sebagainya
itu tidak cukup beralasan, artinya hanya memandang dirinya sendiri (egoisme).
Iri dan sebagainya itu merupakan sebagian dari pernyataan individu secara
keseluruhan berdasarkan konsep yang kurang sehat, maka sring untuk alasan iri,
benci, dendam, dan sebagainyaitu krang dapat dipahami orang lain . kegelisahan
yang lain adalah perasaan tidak menakutkan dan menjijikkan.
Adapun sebab-sebab orang gelisahpada
hakekatnya orang takut kehilangan hak-haknya. Hal itu disebabkan karena adanya
suatu ancaman yang asalnya dari luar atau dari dalam dirinya sendiri.
Usaha-usaha untuk mengatasi kegelisahan,
pertama-tama harus dimulai dari diri sendiri, yaitu kita kita harus bersikap
tenang. Dengan bersikap tenang, kita dapat berpikir tenang, sehingga segala
kesulitan dapat kita atasi. Untuk menghilangkan kegelisahan adalah pasrah diri
kepada Tuhan. Kita harus percaya bahwa Tuhanlah Maha Kuasa , Maha Pengasih,
Maha Penyayang, dan Maha Pengampun.[6]
C. Harapan
Harapan selalu dilatar belakangi oleh
kehidupan oleh kehidupan yang berfokus pada kebutuhan hidup, yang bertujuan untuk menciptakan kemakmuran,
kesenangan, kebahagiaan dan kebaikan. Harapan selalu menimbulkan sikap positif,
optimis, aktif dan kreatif, karena ada
satu unsur yang menentukan, yaitu diukur dengan kemampuannya sendiri. Usaha
yang sudah dirintintis itu membangkitkan gairah untuk mengatasi kesulitan
hidup.Sedangkan kemampuan dirisendiri, membangkitkan sikap ”percaya diri” bahwa
apa yang diharapkanitu berhasil. Keinginan manusia dapat dibedakanmenjadi tiga macamsecara
berurutaan, yaitu : angan-angan,cita-cita dan harapan. Angan-angan adalah
suatukeinginan yang tidak mungkin tercapai, karena tidak didukung oleh kemampuan
dan usaha. Cita-cita adalah suatu keinginan yang mungkin dapat dicapaibila
disertai usaha yang kuat, dan didukung oleh suatu kemampuan.Dalam hal ini
keinginan itu masih didalampikiran, belum terwujut dalam usaha.Harapan adalah
suatu keinginan yang mungkin tercapai dengan usaha yang telah dirintis
(dimulai), karena didukung oleh kemampuan.[7]
Harapan berasal dari kata harap yang
berarti keinginan supaya sesuatu terjadi, sehingga harapan dapat diartikan
sesuatu yang diinginkan dapat terjadi. Yang dapat disimpulkan harapan itu
menyangkut permasalahan masa depan.
Setiap manusia mempunyai harapan. Manusia
yang tanpa harapan, berarti manusia itu mati dalam hidup. Orang yang akan
meninggal sekalipun mempunyai harapan, biasanya berupa pesan – pesan kepada
ahli warisnya.
Harapan tersebut tergantung pada
pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup dan kemampuan masing – masing.
Misalnya, Budi hanya mampu membeli sepeda, biasanya tidak mempunyai harapan
untuk membeli mobil. Seorang yang mempunyai harapan yang berlebihan terkadang
akan berakibat menjadi tertawaan orang banyak seperti pribahasa “Si pungguk
merindukan bulan”, walaupun tidak ada yang tidak mungkin didunia ini bila Tuhan
berkehandak.
Harapan harus berdasarkan kepercayaan,
baik kepercayaan pada diri sendiri, maupun kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha
Esa. Agar harapan dapat terwujud, maka diperlukan usaha dengan sungguh –
sungguh, berdoa dan pada akhirnya bertawakal agar harapan itu dapat terwujud.[8]
Sebab manusia mempunyai harapan adalah
menurut kodratnya manusia itu adalah mahluk sosial. Setiap lahir ke dunia
langsung disambut dalam suatu interaksi hidup, yakni ditengah suatu keluarga
atau sebagai anggota masyarakat. Tidak ada satu manusiapun yang luput dari
interaksi hidup. Ditengah – tengah yang lainnya, seseorang dapat hidup dan
berkembang baik fisik / jasmani maupun mental / spiritualnya. Ada dua hal yang
mendorong orang hidup berinteraksi dengan manusia lain, yakni dorongan kodrat
dan dorongan kebutuhan hidup.
Dorongan kodrat, ialah sifat, keadaan
atau pembawaan alamiah yang sudah terjelma dalam diri manusia sejak manusia itu
diciptakan oleh Tuhan. Misalnya menangis, bergembira, berpikir, berjalan,
berkata, mempunyai keturunan dan sebagainya. Setiap manusia mempunyai kemampuan
untuk itu semua.
Dorongan kebutuhan hidup, sudah
kodratnya bahwa manusia mempunyai bermacam – macam kebutuhan hidup. Kebutuhan
hidup itu pada garis besarnya dapat dibedakan atas kebutuhan jasmani dan
kebutuhan rohani.
Menurut Abraham Maslow sesuai dengan
kodratnya harapan manusia atau kebutuhan manuis itu ialah :
a.
Kelangsungan hidup
(survival)
b.
Keamanan (safety)
c.
Hak dan kewajiban
mencintai dan dicintai (be loving and love)
d.
Diakui linkungan
(status)
e.
Perwujudan cita – cita
(self actualization)[9]
BAB III
PENUTUP
Simpulan
1. Yang
dimaksud dengan pandangan hidup adalah bagaimana manusia memandang kehidupan
atu bagaimana manusia memiliki rancangan tentang kehidupan. Akibat dari
pandangan hidup yang berbeda-beda , maka timbulah pandangan hidup yang dapat
dikelompok-kelompokan, disebut aliran atau faham. Sebagai contoh orang yang
mengutamakan diri sendiri menimbulkan faham individualisme dan orang yang
mengutamakan kepentingan umum atau masyarakat menimbulkan faham sosialisme.
2. Gelisah
berasal dari kata “gelisah”, artinya rasa tidak tentram hati, tidak tenang,
tidak sabar lagi, merasa cemas dan khawatir. Kegelisahan hanya dapat diketahui
dari gejala tingkah laku atau gerak-gerik seseorang dalam situasi tertentu.
Gejala tingkah laku atau gerak-gerik itu umumnya lain dari biasanya, misalnya
berjalan mondar-mandir dalam ruangan tertentu sambil menundukkan kepala.
3. Harapan
selalu dilatar belakangi oleh kehidupanoleh kehidupan yang berfokus pada
kebutuhan hidup, yang bertujuan untuk
menciptakan kemakmuran, kesenangan, kebahagiaan dan kebaikan. Harapan selalu
menimbulkan sikap positif, optimis, aktif dan kreatif, karena ada satu unsur yang menentukan, yaitu
diukur dengan kemampuannya sendiri. Usaha yang sudah dirintintis itu
membangkitkan gairah untuk mengatasi kesulitan hidup.Sedangkan kemampuan
dirisendiri, membangkitkan sikap ”percaya diri” bahwa apa yang diharapkanitu
berhasil. Keinginan manusia dapat dibedakanmenjadi tiga macamsecara berurutaan,
yaitu : angan-angan,cita-cita dan harapan. Angan-angan adalah suatukeinginan
yang tidak mungkin tercapai, karena tidak didukung oleh kemampuan dan usaha.
Cita-cita adalah suatu keinginan yang mungkin dapat dicapaibila disertai usaha
yang kuat, dan didukung oleh suatu kemampuan.Dalam hal ini keinginan itu masih
didalampikiran, belum terwujut dalam usaha.Harapan adalah suatu keinginan yang
mungkin tercapai dengan usaha yang telah dirintis (dimulai), karena didukung
oleh kemampuan.
DAFTAR
PUSTAKA
Mustofa, Ahmad,
Ilmu Budaya Dasar, Bandung: Pustaka Setia, 1999.
Sudibyo, Lies.,
dkk.,Ilmu Sosial Budaya Dasar, Yogyakarta: Andi Offset, 2013.
Sanusi, Aang. “Manusia dan Kegelisahan.” 7 sep. 2015,
https://sanusiadam79.wordpress.com/2013/05/09/manusia-dan-kegelisahan/
Yudo, Ardi. “Manusia dan Harapan.” 8 sep. 2015.
http://ilmubudayadasarardhi.blogspot.co.id/2011/11/manusia-dan-harapan.html
Rahman, Habib
Abdur. “Manusia dan Harapan.” 7 sep.
2015, https://abra139201.wordpress.com/2011/05/24/manusia-dan-harapan.html
[1] Ahmad Mustofa, Ilmu Budaya Dasar (Bandung:Pustaka Setia, 1999) 113-114
[2]Ahmad Mustofa, Ilmu Budaya Dasar (Bandung:Pustaka Setia, 1999) 114-115
[3] Ahmad Mustofa, Ilmu Budaya Dasar (Bandung:Pustaka Setia, 1999) 144
[4]Ahmad Mustofa, Ilmu Budaya Dasar (Bandung:Pustaka Setia, 1999) 145
[5]Ahmad Mustofa, Ilmu Budaya Dasar (Bandung:Pustaka Setia, 1999) 145-146
[6]Aang Sanusi, Manusia dan
Kegelisahan, 7 sep. 2015
https://sanusiadam79.wordpress.com/2013/05/09/manusia-dan-kegelisahan/
[7] Lies Sudibyo, dkk., ilmu Sosial Budaya dasar (Yogyakarta: Andi Offset,
2013) 159-160
[8] Habib Abdur Rahman, Manusia dan
Harapan, 7 sep. 2015
https://abra139201.wordpress.com/2011/05/24/manusia-dan-harapan.html
[9] Ardi Yudo, Manusia dan Harapan, 8 sep. 2015
http://ilmubudayadasarardhi.blogspot.co.id/2011/11/manusia-dan-harapan.html